Senin, 23 September 2019

SEJARAH SINGKAT IMAM SYAFI'I


1. Putra Kelahiran Palestina
Imam Syafi'i dilahirkan pada 150 Hijriah, bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah. Mayorita riwayat menyatakan bahwa Syafi'i dilahirkan di Ghaza,Palestina.

2. Nasab yang Mulia
Nama lengkap Imam Syafi'i adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Idris Ibn al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi' ibn al-Sa'ib ibn 'Ubaid ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn Muthallib ibn Abdi Manaf. Akar nasab Syafi'i bertemu dengan akar nasab Nabi saw, tepatnya di moyangnya bernama Abdi Manaf.

Abdi Manaf adalah moyang Nabi saw yang memiliki empat putra: Hasyim, darinya terlahir Nabi saw; Muthallib, darinya terlahir Imam Syafi'i ; Naufal,kakek dari Jabir ibn Muth'im; dan Abd Syams, kakek moyang Bani Umayyah. Dengan demikian, nadab keluarga Muhammadibn Idrisibn Abdullah al-Syafi'i bertemu dengan nasab Nabi, tepatnya di Abdi Manaf sebagai kakek moyang Nabi saw.

3. Ibunda Sang Pembimbing
Ibunda Imam Syafi'i berasal dari Azad,salah satu kabilah Arab yang masih murni. Ia tidak termasuk kabilah Quraisy, meskipun sekelompok orang fanatik terhadap Imam Syafi'i mengaku bahwa ibunda Syafi'i berasal dari kaum Quraisy Alawi. Pendapat yang benar adalah ia berasal dari kaum Azad karena riwayat-riwayat yang bersumber dari Syafi'i menegaskan bahwa ibunya berasal daei Azad.

Ibunda Imam Syafi'i taat beribadah dan berakhlak mulia. Di antara hal menarik tentang kecerdasannyaadalah saat ia menjadi saksi di hadapan pengadilan Makkah bersama seorang saksi perempuan lain dan seorang saksi laki-laki

4. Hidup Miskin
Syafi'i terlahir dsei seorang bapak keturunan Quraisy. Bapaknya meninggal ketika Syafi'i masih dalam buaian. Syafi'i hidup sebagai anak yatim dan miskin, sementara nasabnya sangat mulia. Jika kemiskinan disandingkan dengan keturunan yang mulia maka orang yang dalam kondisi ini akan tumbuh baik, memiliki akhlak yang lurus dan menempuh jalur yang mulia. Kemiskinan yang disertai dengan nasab yang mulia inilah yang membuat Syafi'i kecil dekat dengan masyarakat dan ikut merasakan penderotaan mereka. Syafi'i sering berbaur dengan mereka dan merasakan apa yang mereka rasakan.

Tidak ada komentar: